Senyum Aurum saat Menanam Bibit Kelapa: Bahasa Cinta yang Tumbuh Bersama Alam

Tak Berkategori311 Dilihat

Oebelo, TPC — Pagi itu, langit Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, tampak jernih. Angin laut berhembus pelan membawa aroma tanah yang baru disiram. Di tengah deretan warga yang bersiap menanam bibit kelapa, tampak sosok Wakil Bupati Kupang, Aurum O. Titu Eki, dengan senyum hangatnya, menggenggam bibit kelapa di tangan. Ia menunduk, menancapkan bibit kecil ke tanah, seolah sedang menanam sepotong harapan untuk masa depan Kabupaten Kupang.

Itu bukan sekadar kegiatan seremonial. Di balik aksi sederhana menanam pohon kelapa itu, tersirat bahasa cinta terhadap alam dan rakyatnya — bahasa yang tidak diucapkan lewat kata-kata, melainkan melalui tindakan nyata.

“Menanam itu adalah wujud cinta,” ucap Aurum pelan sambil tersenyum. “Cinta kepada tanah tempat kita berpijak, cinta kepada udara yang kita hirup, dan cinta kepada generasi yang akan datang. Pohon kelapa ini mungkin baru setinggi lutut, tapi kelak akan menjadi peneduh bagi banyak orang.”

Aksi tanam kelapa yang dilakukan Aurum O. Titu Eki bersama Bupati Kupang Yosef Lede dan ratusan warga itu menjadi bagian dari Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BB-GRM) ke-22 Kabupaten Kupang Tahun 2025. Acara yang dipusatkan di Desa Oebelo ini mengusung semangat kebersamaan dan kolaborasi lintas sektor — dari pemerintah, lembaga adat, gereja, hingga komunitas muda.

Namun, bagi warga yang hadir, momen menanam bibit kelapa bersama pemimpin daerah bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah simbol kedekatan dan ketulusan. Saat Wakil Bupati menunduk di tanah yang sama dengan warga, membenamkan akar kecil ke bumi, rasa jarak antara pemimpin dan rakyat seolah hilang.

“Waktu lihat Pak Aurum menanam sendiri, kami terharu,” tutur Mama Ina, salah satu warga yang ikut menanam. “Tidak hanya menyuruh, tapi beliau ikut kerja. Itu yang kami sebut pemimpin yang punya hati.”

Bagi sebagian orang, menanam mungkin hal sepele. Namun, di tangan Aurum, kegiatan itu berubah menjadi pesan mendalam tentang kesabaran, harapan, dan keberlanjutan.

“Pohon kelapa itu mengajarkan kita arti menunggu,” katanya dalam sambutan singkat. “Ia tidak berbuah dalam semalam. Tapi jika dirawat dengan cinta, hasilnya bisa dinikmati puluhan tahun. Begitu juga dengan pembangunan — butuh waktu, tapi harus dimulai dari sekarang.”

Pernyataannya disambut tepuk tangan warga. Dalam kesederhanaan, Aurum Titu Eki menampilkan gaya kepemimpinan yang reflektif dan membumi. Ia tidak bicara tentang proyek besar atau rencana megah, melainkan tentang hal-hal kecil yang membentuk kehidupan — tentang kebersihan, tentang menanam pohon, tentang menjaga lingkungan.

Kabupaten Kupang tengah berjuang menghadapi berbagai tantangan: keterbatasan infrastruktur, persoalan sampah, dan dampak perubahan iklim. Namun, kegiatan seperti Bulan Bhakti Gotong Royong memberi napas baru — bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tindakan sederhana.

Aksi menanam kelapa menjadi bentuk nyata dari filosofi itu. Pohon yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi bagian dari ekosistem yang menyehatkan. Akarnya menahan tanah, daunnya memberi naungan, buahnya memberi manfaat ekonomi, dan keberadaannya mengingatkan manusia untuk hidup selaras dengan alam.

“Setiap kali menanam, saya selalu merasa seperti sedang berdialog dengan bumi,” ujar Aurum tersenyum. “Ia seolah berkata, ‘terima kasih telah peduli’. Saya berharap kebiasaan menanam ini tidak berhenti di sini, tapi menjadi budaya masyarakat Kupang.”

Di sela-sela kegiatan, warga, pelajar, dan aparat desa bahu-membahu menanam ratusan bibit kelapa hibrida di sekitar area kantor desa. Tua-muda saling bekerja sama, tertawa di bawah terik matahari, sementara Aurum berjalan di antara mereka, menyapa satu per satu dengan senyum yang tulus.

Senyum itu, bagi banyak orang, menjadi simbol kepedulian yang hidup — bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya hadir di podium, tapi juga di tengah tanah, lumpur, dan keringat rakyatnya.

“Gotong royong adalah kekuatan Kupang,” katanya lagi. “Ketika kita bekerja bersama, bukan hanya pohon yang tumbuh, tapi juga rasa saling percaya.”

Menjelang siang, terik mulai menyengat. Namun, di antara barisan bibit kelapa yang baru tertanam, tampak wajah-wajah penuh harapan. Di ujung barisan itu, senyum Aurum O. Titu Eki masih terukir — sederhana, tapi menyala.

Hari itu, Kabupaten Kupang tidak hanya menanam pohon. Mereka menanam semangat, menanam cinta, dan menanam masa depan.

Sebab, seperti yang dikatakan Aurum sebelum meninggalkan lokasi,

“Cinta itu tumbuh kalau kita mau merawat. Sama seperti pohon-pohon ini — biarlah ia tumbuh bersama alam, bersama hati kita.”

Dan di bawah langit Oebelo yang biru, bahasa cinta itu mulai berakar — diam-diam, tapi pasti, di tanah yang mereka sebut Kupang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *