Kupang – Kondisi memprihatinkan terjadi di Pantai Teres, Kelurahan Buraen, Amarasi Selatan. Proyek wisata yang dibangun dengan anggaran pemerintah Kabupaten Kupang pada 2021–2022 kini terbengkalai dan rusak parah.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kupang, Yupiter Selan, saat meninjau lokasi Minggu (7/9/2025), menemukan aula serbaguna, kolam pemandian, hingga fasilitas MCK yang sudah tak berfungsi. Padahal, proyek ini menelan biaya miliaran rupiah dari APBD.
Fasilitas Rusak dan Tak Terawat
Aula serbaguna tampak kotor dan dipenuhi kotoran ternak. Pekerjaan bronjong penahan tebing ditemukan tidak sesuai spesifikasi, bahkan sisa material dibiarkan menumpuk.
Dua kolam pemandian air tawar yang dirancang sebagai daya tarik wisata kini dipenuhi lumut, air keruh, hingga retakan di dasar kolam. Kondisi ini justru menimbulkan bahaya bagi masyarakat.
MCK dan Air Bersih Tak Berfungsi
Sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) juga mengalami kerusakan. Tidak ada akses air bersih sehingga fasilitas ini tidak bisa digunakan wisatawan. Akibatnya, Pantai Teres gagal menjadi destinasi unggulan Amarasi Selatan.
Kajari Kupang: Tidak Ada Asas Manfaat
Menurut Kajari, anggaran besar yang digelontorkan seharusnya berdampak pada peningkatan pariwisata dan ekonomi warga. Namun faktanya, fasilitas yang dibangun hanya menjadi bangunan terbengkalai.
“Negara sudah keluar biaya besar, tapi apa manfaat yang didapat masyarakat? Tidak ada,” tegas Yupiter Selan. Ia menambahkan akan mendalami kemungkinan adanya indikasi penyalahgunaan anggaran atau praktik korupsi.
Harapan Masyarakat Pupus
Warga Amarasi Selatan kecewa karena Pantai Teres gagal menjadi pusat ekonomi baru. Potensi wisata pantai yang indah kini hilang akibat manajemen dan pengawasan yang lemah.
“Sejak dibangun, kami tidak pernah merasakan manfaat. Malah sekarang jadi sarang ternak dan kolam kodok,” kata salah seorang warga.
Padahal, Pantai Teres punya peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi unggulan Nusa Tenggara Timur jika dikelola dengan serius.












