Aurum Titu Eki: Setiap Pemuda Adalah Pemimpin, Mulailah dari Hal yang Kecil

Tak Berkategori328 Dilihat

Aurum Titu Eki: Setiap Pemuda Adalah Pemimpin, Mulailah dari Hal yang Kecil

Kupang Barat, TPC – Di bawah langit biru Oematnunu yang tenang, ratusan pemuda GMIT berkumpul di Bumi Perkemahan CHMK. Suasana penuh semangat dan sukacita. Mereka datang dari 33 klasis se-Sinode GMIT untuk mengikuti Pekan Raya Pemuda GMIT 2025, sebuah momentum spiritual dan intelektual dengan tema: “To Be a Leader: Bertumbuh, Berkarya, Berdampak.”

Di tengah hamparan hijau dan udara laut yang sejuk, Wakil Bupati Kupang, Aurum O. Titu Eki, berdiri di hadapan mereka. Dengan nada bicara yang lembut namun tegas, ia tidak hanya berbicara tentang pemerintahan, tetapi tentang hidup yang bermakna dan kepemimpinan yang melayani.

“Setiap pemuda adalah pemimpin. Tapi ingat, kepemimpinan sejati tidak selalu berarti memiliki jabatan atau gelar. Kepemimpinan dimulai dari tanggung jawab yang kecil, dari kemampuan mengambil keputusan dengan hati yang benar,” ujar Aurum disambut tepuk tangan peserta.

Pemimpin yang Dimulai dari Diri Sendiri

Dalam pandangan Aurum, pemuda hari ini sering kali mengidentikkan kepemimpinan dengan popularitas atau posisi. Padahal, ia menekankan, kepemimpinan sejati justru lahir dari disiplin, integritas, dan kejujuran dalam hal-hal sederhana — seperti cara seseorang menghargai waktu, menjaga kebersihan, menepati janji, dan memperlakukan orang lain dengan hormat.

“Kalau kita tidak bisa memimpin diri sendiri, bagaimana kita bisa memimpin orang lain? Pemimpin yang besar lahir dari proses panjang dan dari hal-hal yang terlihat kecil,” ujarnya dengan tatapan penuh makna.

Kata-kata itu terasa menyentuh. Di antara peserta, beberapa tampak mengangguk pelan, seolah menyadari bahwa kepemimpinan bukan tentang status, tapi tentang pengaruh positif yang mampu kita tularkan kepada sekitar.

Aurum juga mengingatkan bahwa di era bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif meningkat pesat, pemuda harus menjadi kekuatan pembangunan bangsa, bukan sekadar penonton perubahan.

“Kita sedang hidup di masa penentuan. Sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan dipimpin oleh generasi kalian. Karena itu, persiapkan diri — bukan hanya dengan ilmu, tapi juga dengan karakter,” tegasnya.

Gereja dan Pemerintah: Dua Sekolah Kepemimpinan

Dalam kesempatan itu, Aurum juga menyinggung pentingnya peran gereja dan pemerintah sebagai dua “sekolah” pembentukan karakter dan kepemimpinan. Menurutnya, gereja adalah tempat di mana nilai-nilai moral, tanggung jawab, dan kasih diajarkan, sementara pemerintah menyediakan ruang aktualisasi untuk menerapkannya dalam kehidupan sosial.

“Gereja dan pemerintah bukan dua entitas yang terpisah. Kita adalah mitra dalam membangun manusia. Gereja mengajarkan nilai, pemerintah mewujudkan kesempatan,” katanya.

Ia memuji langkah Sinode GMIT yang terus melibatkan anak muda dalam program pelayanan dan kegiatan sosial. Menurutnya, kegiatan seperti Pekan Raya Pemuda menjadi laboratorium kepemimpinan yang luar biasa — tempat di mana anak muda bisa belajar bekerja sama, berinisiatif, dan berani tampil di depan publik.

Pemuda dan Tantangan Zaman

Aurum tidak menutup mata terhadap tantangan generasi muda masa kini. Ia menyoroti pengaruh media sosial, menurunnya literasi, dan krisis karakter sebagai tantangan serius yang harus dihadapi bersama. Namun, alih-alih menghakimi, ia mengajak para pemuda untuk menjadikan teknologi sebagai alat pemberdayaan, bukan keterasingan.

“Gunakan media sosial untuk membangun, bukan menjatuhkan. Jadikan dunia digital sebagai ruang belajar, bukan tempat melampiaskan amarah,” ujarnya menasihati dengan nada bersahabat.

Ia juga menekankan pentingnya etos kerja dan tanggung jawab sosial, dua hal yang menurutnya menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan Nusa Tenggara Timur yang berdaya dan berkarakter.

Menyalakan Cahaya dari Oematnunu

Sore menjelang petang, sinar matahari menembus celah dedaunan, memantulkan cahaya ke wajah para pemuda yang masih bertahan menyimak. Di tengah alam terbuka itu, kata-kata Aurum Titu Eki tidak sekadar menjadi pidato, tetapi menjadi bahasa kehidupan — lembut, tapi mengakar kuat dalam hati yang mendengar.

“Kalau kalian ingin melihat perubahan besar, mulailah dari yang kecil. Kalau ingin memimpin banyak orang, mulailah dari diri sendiri. Karena kepemimpinan sejati tidak diwariskan, tapi dilatih setiap hari lewat kesetiaan pada hal-hal sederhana,” tutupnya.

Di akhir acara, suasana berubah haru. Banyak peserta tampak menyalami Aurum, mengucapkan terima kasih atas pesan yang menyentuh dan membangkitkan semangat. Di mata mereka, tampak sinar baru — sinar yang membawa harapan dan tekad untuk menjadi pemimpin, sekecil apa pun ruang yang mereka punya.

Dari Oematnunu, pesan itu bergema: bahwa masa depan tidak menunggu mereka yang ragu, tapi mereka yang berani mulai dari langkah kecil dengan cinta dan ketulusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *